Stokis

Laman ini menguraikan tentang Peraturan Kerja Mitra Abadi Sejahtera dalam kerjasama dengan pihak stokis, dimana setiap poin yang ada telah tercantum dalam perjanjian kerjasama antara pihak perusahaan dengan pihak stokis.

Insentif dan Bagi Hasil

  • Stokis akan menerima bagi hasil 20% dari selisih harga net pricelist dengan harga jual grosir yang berlaku di wilayahnya, yang di jual dari bagian marketing perusahaan.
  • Stokis juga akan menerima bagi hasil 1% dari total omset bulanan yang di kelolanya, kecuali produk khusus seperti produk dari merk Miyako, Cosmos, Kirin, Rinnai dan produk lain yang telah ditetapkan dari perusahaan.
  • Stokis bisa melakukan penjualan sendiri secara retail, keuntungan dari selisih harga jual yang dijual oleh stokis dengan Nilai setor agen, menjadi hak stokis (Nilai setor agen ditentukan berdasarkan harga jual grosir rata-rata di wilayah tersebut). Selain itu, stokis juga mendapat bagi hasil 80% dari selisih nilai setor agen dengan harga net pricelist, dan 20% sisanya menjadi hak (bagi hasil) untuk managemen perusahaan yang mengelolanya.
  • Produk yang dijual secara retail oleh stokis bila tidak melakukan laporan kepada perusahaan, maka pihak stokis tidak mendapatkan bagi hasil 1% dari nilai omset. Dan barang-barang tersebut masih dianggap masuk nilai plafon.
  • Apabila setelah dilakukan audit data stok, ditemukan stok barang pada stokis ternyata telah melebihi batas maksimal plafon, maka pihak stokis wajib mengembalikan kelebihan stok yang berada di tangannya, atau bisa juga menambah nilai deposit menyesuaikan nilai aset (stok barang) saat ini. Apabila tidak, maka insentif dan bagi hasil untuk stokis untuk sementara waktu belum dapat dikeluarkan oleh perusahaan, serta permintaan order barang selanjutnya tidak akan dilayani hingga urusan ini terselesaikan.

Suplay Barang ke Stokis

  • Suplay barang yang menjadi stok awal dari perusahaan maksimal 50% dari nilai deposit pihak stokis, dan sisanya akan menyesuaikan permintaan pasar (penjualan).
  • Barang yang sudah diterima stokis dari pengiriman pihak perusahaan, sudah menjadi tanggung jawab pihak stokis. Barang diterima dianggap telah dilakukan pengecekan, sehingga komplin setelah barang diterima tidak dapat ditindaklanjuti langsung oleh perusahaan.
  • Barang yang rusak dalam pengiriman, menjadi tanggung jawab bagian pengiriman atau pihak perusahaan.
  • Barang yang rusak akibat kelalaian pihak stokis selama dalam naungan gudang stokis, menjadi tanggung jawab pihak stokis.
  • Perusahaan tidak dapat melayani permintaan suplay barang diatas nilai maksimal plafon yang telah disepakati.
  • Perusahaan diperbolehkan mengakses data stok yang berada ditangan pihak stokis, untuk mendukung omset penjualan stokis.

Barang Keluar dari Stokis

  • Pihak perusahaan diperbolehkan meminta barang kepada stokis untuk mencukupi orderan penjualan sales di wilayah sekitarnya apabila digudang pusat sedang kekurangan stok, bila stok di stokis tersedia.
  • Penjualan dari barang yang terkirim yang diambil dari stokis menjadi omset penjualan dari stokis tersebut.
  • Sales grosir diperbolehkan mengambil barang untuk digunakan sebagai demokit (produk contoh) dengan rekomendasi dari perusahaan. Barang demokit yang langsung terjual atau terkirim, akan masuk ke omset penjualan stokis.
  • Barang batalan yang diambil dari stokis untuk memenuhi permintaan pasar (penjualan) di daerah tersebut ataupun demokit, akan dikembalikan lagi kepada pihak stokis, untuk mempermudah check & balance. Namun pihak stokis berhak menolak barang yang dikembalikan tersebut apabila kondisi barang tidak sesuai saat pengambilan.
  • Stokis dilarang mengeluarkan barang kepada petugas perusahaan dilapangan tanpa bukti Surat Jalan ataupun pemberitahuan resmi dari perusahaan. Apapun alasannya. Kerugian dari barang yang dikeluarkan oleh stokis tanpa adanya rekomendasi dari perusahaan, bukan menjadi tanggung jawab pihak perusahaan, melainkan tanggung jawab pihak stokis itu sendiri.
  • Pihak stokis bisa mengelola stoknya untuk mendapatkan penghasilan lebih dengan melakukan penjualan sendiri secara RETAIL pada toko miliknya baik secara offline maupun online. Namun, pihak stokis tidak di perbolehkan melakukan penjualan secara grosir dengan mengambil alih pasar yang telah di kelola perusahaan.

Retur Barang ke Perusahaan

  • Barang yang ada pada stokis apabila tidak laku, dapat dikembalikan kepada perusahaan dengan syarat kondisi barang masih layak jual dan tidak bekas pakai. Layak jual yang dimaksud adalah kondisi kardus masih baru, barang masih berfungsi / tidak rusak, aksesoris yang disertakan pada paket penjualan masih lengkap.
  • Barang rusak akibat kelalaian pihak stokis dan atau akibat bencana alam seperti kebakaran, kebanjiran, kehujanan, kelembaban menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh pihak stokis dan tidak dapat di retur atau dikembalikan kepada perusahaan.
  • Garansi barang mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku dari pabrik dan distributor. Setiap produk memiliki masa garansi yang berbeda-beda. Lihat kartu garansi yang disertakan. Apabila tidak disertakan kartu garansi, berarti produk tersebut tidak memiliki garansi.
  • Apabila kardus barang rusak selama berada di tangan pihak stokis, maka barang tersebut tidak bisa di retur dan wajib dijualkan oleh pihak stokis.

Pemutusan Kerjasama

Pemutusan kontrak kerjasama dapat terjadi apabila:

  • Pihak stokis melakukan kerjasama secara langsung (ilegal) dengan sales / bagian pengiriman untuk mengelabuhi atau mencurangi perusahaan demi mencari keuntungan pribadi, yang dinilai merugikan pihak perusahaan.
  • Pihak stokis melakukan penjualan langsung secara grosir dan atau mengambil alih pasar grosir tanpa ijin di wilayahnya, dimana pasar grosir (area/toko) tersebut sudah dikelola oleh perusahaan.
  • Pihak stokis merusak harga pasar (menjual dibawah harga pasar) tanpa konfirmasi perusahaan.
  • Pihak stokis mengambil produk yang serupa dari suplayer lain, dimana produk tersebut bisa dimanfaatkan (menjadi atau dijadikan) seolah-olah produk dari Mitra Abadi Sejahtera, dan itu nantinya di gunakan untuk mengelabuhi dan atau dianggap dapat merugikan perusahaan.

Bila terjadi pemutusan kerjasama antara stokis dan perusahaan, barang yang berada di pihak stokis akan dibantu jual oleh pihak perusahaan sampai stok habis, dan dana bisa dicairkan sesuai nilai barang yang telah terjual. Disini pihak stokis tidak diperkenankan melakukan order kembali dalam bentuk stok kepada perusahaan, untuk mempercepat proses menghabiskan stok.